Hunian Berbasis Transportasi

Hunian Berbasis Transportasi

Jakarta menjadi salah satu kota megapolitan dengan jumlah penduduk paling padat di dunia dengan jumlah lebih dari 10 juta jiwa. Ini belum termasuk mereka yang tingal di daerah penyanga dan bekerja di Jakarta. Hal ini menyebabkan kepadatan di jalan raya, karena sebagian besar menggunakan mobil pribadi dan sepeda motor. Pemerintah mengambil langkah strategis, dengan membangun sistem transportasi massal Light Rail Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT), dan Bus Rapid Transit (BRT), yang diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan. Konsep transportasi ini memberi ruang kepada pengembang properti, swasta maupun BUMN untuk mengembangkan kawasan hunian berbasis transportasi atau Transit Oriented Development (TOD).

Transit Oriented Development (TOD) adalah pengembangan konsep kawasan terpadu (mixed use) yang menitikberatkan integrasi sistem pelayanan moda transit. Diharapkan nantinya masyarakat akan beralih dari moda pribadi ke massal atau cukup berjalan kaki ke tempat kerja. Kawasan TOD memiliki kelebihan pada fasilitas transportasi massal yang memudahkan aktivitas penghuni dari dan ke tempat kerja. Jika dalam perkotaan dengan kepadatan tingi, pengembangan TOD mensinergikan semua transportasi dan fasilitas yang ada dalam kawasan. Misal dalam satu kawasan memiliki apartemen, perkantoran, akses transprtasi (LRT, MRT, BRT), dan jalur sepeda. Yoga Adiwinarto, Country Director Institute for Transportation & Development Policy (ITDP), mengatakan, “Jakarta masih menjadi kota yang berorientasi kepada kendaraan pribadi, terutama mobil. Konsepnya dibuat seperti kota di era 1990-an, saat mobil sedang menjadi sebuah primadona. Jadi dampaknya sekarang macet.

Energi yang kita perlukan untuk melakukan mobilisasi dari hunian sudah besar sekali. Konsep TOD bisa menjadi solusi jangka panjang yang baik dan dapat mengurai pergerakan orang menuju pusat kota.” Ide konsep TOD Apa itu TOD? Jakarta menjadi salah satu kota megapolitan dengan jumlah penduduk paling padat di dunia dengan jumlah lebih dari 10 juta jiwa. Ini belum termasuk mereka yang tingal di daerah penyanga dan bekerja di Jakarta. Hal ini menyebabkan kepadatan di jalan raya, karena sebagian besar menggunakan mobil pribadi dan sepeda motor. Pemerintah mengambil langkah strategis, dengan membangun sistem transportasi massal Light Rail Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT), dan Bus Rapid Transit (BRT), yang diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan.

baca juga : Daftar Harga Genset Perkins dan Kegunaan Genset Perkins

Konsep transportasi ini memberi ruang kepada pengembang properti, swasta maupun BUMN untuk mengembangkan kawasan hunian berbasis transportasi atau Transit Oriented Development (TOD). dilatarbelakangi pemikiran bahwa titik-titik transit, seperti terminal, stasiun, halte/bus stop, dan lainnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Namun di titik tersebut dapat difungsikan juga sebagai tempat aktivitas perkotaan (pusat permukiman, perkantoran, perdagangan jasa, pendidikan, dan lainnya).

“Keberhasilan penerapan konsep TOD telah ditunjukkan berbagai negara seperti Jepang, Hong Kong, dan lainnya. Konsep ini mampu dalam meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas, sehinga mengurangi kemacetan, mereduksi pencemaran lingkungan, dan efsiensi pengunaan energi di sektor transportasi,” jelas Sigit Irfansyah, Direktur Perencanaan dan Pengembangan, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, saat bincang-bincang yang diselengarakan Synthesis Development beberapa waktu lalu.