Keramik itu Punya Nyawa by Ayu Larasati

Keramik itu Punya Nyawa by Ayu Larasati

Bagi Ayu Larasati, keramik bukanlah sekadar benda “mati” yang presisi, melainkan sebuah benda yang punya kehidupannya sendiri. Karena itulah, keramik berhasil membuatnya jatuh hati.

Suara mesin terdengar pelan dari ruangan itu, ruangan yang dipenuhi oleh mangkuk dan mug yang masih berwarna cokelat. Masih berupa tanah liat. Mesin itu berputar, membuat bongkahan cokelat muda yang masih basah menarinari di atasnya, seakan tengah berada di lantai dansa. Ya, seorang wanita berparas cantiklah yang menyalakannya. Dengan balutan baju terusan hitam dan celemek berbahan denim, ia tengah asyik “bermain-main” dengan bongkahanbongkahan tanah liat tersebut.

Seperti parasnya yang ayu, wanita ini bernama Ayu Larasati. Memang, Ayu sapaan akrabnya berprofesi sebagai seorang potter atau pengrajin keramik. Baginya, ruangan yang diisi oleh mesin putar dan tanah liat tersebut merupakan sebuah “taman ria”, tempat ia berkreasi, berekspresi, dan meluapkan isi hatinya. “Sebenarnya, dari dulu saya mempelajari semuanya, termasuk kerajinan kayu dan besi. Tapi, bagi saya, kerajinan keramik atau pottery seperti ini sangat menenangkan.

Materialnya pun sangat menantang, seperti makhluk hidup. Seperti punya nyawa,” ungkap wanita bertubuh mungil ini. Pasalnya, bagi Ayu, hasil kerajinan keramik ini tidak bisa diprediksi. “Misalnya, sebelum dimasukkan ke tungku atau pembakaran, saya merencanakan membuat bentuk A. Tapi, hasilnya bisa berbeda banget. Jadi kejutan kan? Nah, hal-hal itu yang membuat saya tertarik untuk mendalami kerajinan ini,” tuturnya menjelaskan.

ALIH PROFESI JADI PENGRAJIN

Awalnya, Ayu bukanlah seorang potter (pengrajin keramik), atau memang mengkhususkan diri pada kerajinan ini. Sejak tahun 2004, Ayu pindah ke Toronto, Canada, untuk menuntut ilmu di tingkat sarjana. Di sana, Ayu mengambil jurusan Industrial Design, sebuah jurusan perkuliahan yang memang mengajarkan mahasiswanya untuk membuat karya-karya desain yang fungsional. Dari jurusan itulah, Ayu mulai mengambil kelas-kelas khusus seperti kelas kerajinan kayu, besi, dan keramik, untuk memenuhi kurikulumnya di tahun kedua.

“Bahkan, dulu, saya sempat ketinggalan dan terseok-seok mengikuti kelas-kelas ini. Soalnya, orang-orang di sana rata-rata sudah mempelajari proses kerajinan ini sejak kecil. Kalau di Indonesia kan kurikulum pendidikan sekolahnya berbeda, jadi saya belum terbiasa. Saya sampai harus mengambil kelas malam, hanya untuk meraih nilai C,” ujar Ayu berkisah.

Setelah lulus kuliah, Ayu sempat menjadi seorang desainer produk di sebuah kantor konsultan desain selama 3,5 tahun. “Kerjanya sih seperti desainer pada umumnya, menggambar di komputer, lalu membuat konsep, dan propose ke klien. Lama-lama jadi kangen juga berkarya membuat kerajinan seperti saat kuliah,” ucap wanita ini sembari tersenyum.

Karena rasa rindu itulah, sembari bekerja, ia mulai mengambil kelas malam yang khusus mempelajari kerajinan keramik. Pada mulanya, ia memutuskan untuk mendalami kerajinan ini, mengingat kerajinan keramik ini bisa dikerjakan dari rumah, dengan alat-alat yang sederhana. Tapi, lama kelamaan, Ayu merasa nyaman mengerjakan kerajinan keramik.

Seperti ada kepuasan dan kesenangan tersendiri ketika membuatnya. Akhirnya, pada tahun 2013- 2014 lampau, Ayu memutuskan untuk pindah kembali ke Tanah Air. Saat itupun, Ayu memutuskan untuk menjalani profesi sebagai seorang pengrajin keramik sepenuhnya. Ia pun menyulap garasi rumahnya menjadi sebuah bengkel keramik, sehingga ia bisa “bermain-main” bersama keramik dengan sepenuh hati.

DARI MEDIA SOSIAL HINGGA WORKSHOP

Ibu dari satu anak ini mengungkapkan bahwa banyak sekali yang terjadi selama setahun terakhir ini. “Awalnya, saya enggak punya rencana apapun dalam menjalankan bisnis ini. Sejak pindah ke sini lagi, pokoknya saya Cuma ingin berkarya dengan keramik. Itu saja,” tuturnya. Namun, kebiasaannya untuk mengunggah foto-foto hasil karyanya ke media sosial, ternyata membuahkan hasil yang menakjubkan. Teman dan kerabat dekat mulai mengapresiasinya.

Lama kelamaan, banyak food stylist dan food blogger yang mulai menghubungi Ayu untuk membeli produk-produk keramiknya tersebut. Seiring berjalannya waktu, Ayu mulai mendapatkan banyak pesanan khusus, seperti dari restoran dan kafe-kafe ternama di Ibu Kota. “Enggak nyangka banget! ” ungkapnya antusias.

Bahkan, nama harumnya pun sampai terdengar di telinga masyarakat awam yang ingin mempelajari proses pembuatan keramik. “Saya juga kaget, sampai ada orang yang berdomisili di Pluit, datang ke sini, hanya karena ingin diajari proses pembuatan keramik, lho! ” ujar wanita ini bersemangat. Akhirnya, workshop pun menjadi salah satu kegiatan yang ia jalankan secara rutin. “Setidaknya, sebulan sekali, di komunitas bernama Indoestri, saya berbagi ilmu pottery , yang memang susah ditemukan di kota-kota besar di Indonesia,” tambah Ayu.

TIDAK MEMBUANG KERAMIK CACAT

Banyak studio keramik besar yang menuntut kesempurnaan dalam hasil karyanya. Bentuk yang halus, presisi, dan warna yang matang menjadi beberapa keunggulannya. Alhasil, jika ada hasil pembakaran keramik yang terlihat gagal dan cacat, keramikkeramik tersebut akan dipecahkan.

Akan dihancurkan berkeping-keping. Ayu termasuk salah satu potter yang tak menyukai hal tersebut. Baginya, kegagalan pada keramik merupakan sebuah proses pembelajaran. Bahkan, ia melihat, kegagalan khususnya dalam bentuk fisik bisa membuahkan nilai estetis yang tinggi. “Misalnya, seperti corak-corak di mug ini.

Kalau di kebanyakan studio keramik besar, mug seperti ini pasti dianggap gagal. Tapi, sebenarnya, kalau diperhatikan, tekstur dan coraknya membuat mug ini menarik, bukan? Terlihat sekali karya tangannya,” ujar Ayu sembari mengangkat salah satu hasil karya keramiknya. Bagi Ayu, proses merupakan sebuah hal terpenting dalam pembuatan keramik. Ia menekankan, hal inilah yang banyak dilupakan oleh para pengrajin keramik di Tanah Air.

Menurutnya, jika seseorang mengetahui prosesnya dari awal, pasti ia tak akan tega memecahkan hasil karyanya sendiri, yang cenderung terlihat gagal secara visual. “Seorang ahli keramik yang baik, pasti akan mementingkan proses pengerjaan keramik. Tak hanya asal membuatnya ke tukang saja, tanpa tahu persis prosesnya seperti apa,”ujar Ayu. menutup pembicaraan hangat kami siang itu.

Selain mempercantik rumah dengan keramik yang unik, instalasi genset perlu diperhatikan. genset yang murah untuk rumah tangga bisa didapat dari toko jual genset silent di Medan. Selain harga murah barang original dan bergaransi.